|
Alergi makanan pada si kecil |
|
Ditulis Oleh riko
|
|
Wednesday, 27 July 2011 |
|
Deteksi Penyebab
Alergi Makanan Pada Si Kecil
Sebut
saja namanya Zaki, seorang anak berusia 3 tahun.Ia mengalami biduran dan sesak
mengi setelah mengonsumsi cokelat. Pada usia 18 bulan ia mengalami biduran juga
setelah ia menyentuh adonan kue bercampur telur. Tak hanya itu ia juga
mengalami radang selaput lendir hidung (rhinitis) kronis, batuk malam hari,
eksim, dan sering dirawat di rumah sakit karena mengi. Bagaimana penanganan
masalah Zaki?
Masalah alergi makanan
Masalah alergi
makanan ini memang masalah kesehatan yang memusingkan dan tak sedikit yang
menderita gangguan ini. Misalnya saja di Inggris, 6-8% anak-anak mengalami
alergi makanan. Bahkan 25% dewasa dilaporkan pernah mengalami reaksi alergi
makanan.
Zat
penyebab alergi, kita sebut dengan alergen. Alergen dari makanan terutama
berasal dari zat glikoprotein yang larut dalam air, baik dari bahan hewani atau
nabati, seperti susu sapi, telur ayam, kacang-kacangan, dan golongan biji
wijen. Selain itu yang lebih jarang adalah alergi buah kiwi, alergi gandum dan
kedelai. Berbeda dengan anak-anak, pada dewasa lebih sering ditemukan alergi
terhadap kerang, ikan, dan kacang-kacangan.
|
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 27 January 2012 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Terapi Bioresonansi Bantu Atasi Alergi Tanpa Obat |
|
Ditulis Oleh http://www.rsisultanagung.co.id
|
|
Thursday, 09 April 2009 |
|
Apakah anda pernah mengalami kulit memerah dan gatal-gatal setelah mengenakan jam tangan atau gelang dari logam? Atau gejala itu terasa usai menyantap “seafood” misalnya? Sangat memungkinkan Anda alergi terhadap zat tertentu. Kalau cuma gatal tak mengapa, tetapi jika alergi nyaris menyebabkan kematian, nanti dulu. Syukurlah kini ada cara menyembuhkan alergi tanpa obat-obatan.
Saat ini kita hidup di lingkungan yang sudah banyak tercemar. Kegiatan industri dan kendaraan bermotor membuat polusi udara, ditambah lagi dengan berbagai bahan kimia yang bisa meracuni tubuh yang terdapat dalam makanan maupun benda di sekitar kita. Hal-hal tersebut dapat menjadi pemicu terjadinya gangguan kesehatan, terutama bagi orang-orang yang sensitif. Banyak penyakit yang tidak berasal hanya dari virus, namun karena seseorang dikategorikan sangat rentan terhadap beberapa jenis benda alias alergi.
Bertambah buruknya polusi membuat angka penderita alergi di Indonesia kian meningkat. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Heru Sundaru dari RSCM/FKUI menunjukkan, angka penderita asma di Indonesia mencapai 8,2%, alergi hidung 17,5%, dan eksim 2,5-4%. Semua ini disebabkan oleh alergi yang penyebabnya dapat bermacam-macam, seperti interaksi antara faktor genetik, pola hidup, dan lingkungan.
Angka pasti penderita alergi di Indonesia dari tahun ke tahun belum jelas. Akan tetapi, menurut beberapa ahli, insiden alergi meningkat dalam 10 tahun terakhir ini, terutama di negara-negara berkembang. Di Klinik Alergi RS Immanuel Bandung, setiap bulannya yang melakukan tes alergi sekitar 20-30 orang, yang konsultasi jauh lebih banyak. Pasien alergi di sini kebanyakan pasien rujukan dari bagian lain seperti kulit, THT, paru, anak, mata.
|
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 25 August 2011 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Prof. Suhariningsih : Kita Jangan Bersikap Skeptis! |
|
Tuesday, 27 May 2008 |
TDC, Kampus C. Konsep baru di bidang ilmu fisika, telah membawa perubahan mendasar bagi pandangan dunia yang mekanistik - reduksionis ke pandangan baru yang holistik – ekologis. Tidak kita sadari sebelumnya, bahwa hal ini memiliki banyak kesamaan dengan pandangan tradisional. Sesuatu yang kerap kita pandang tidak realistis, kini justru berhasil dibuktikan secara ilmiah.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 02 September 2008 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 4 dari 6 |