Bahaya Radiasi PonSel

Posted by on 12 April 2010 in Artikel Kesehatan | 0 comments

Anak-anak yang menggunakan telepon seluler memiliki risiko tumor otak
sampai 420 persen ketika dewasa nanti.

*WASHINGTON *– “Kini sudah waktunya kita sekali lagi menempatkan sains
di puncak agenda dan karya kita, mendengar semua yang dikatakan ilmuwan
kita, meski itu tidak selalu enak didengarnya, terutama ketika itu
memang terdengar tidak enak di telinga kita.”

Kutipan dari ucapan Presiden Amerika Serikat Barack Obama tersebut
tampak tegas dengan huruf-hurufnya yang tercetak tebal dan ukurannya
yang lebih besar. Kutipan itu, bersama prinsip waspada yang diadopsi
Komisi Eropa, mengisi halaman awal sebuah laporan terbaru yang
mengingatkan kaitan antara telepon seluler dan tumor otak.

Anak-anak yang menggunakan telepon seluler memiliki risiko tumor otak
sampai 420 persen ketika dewasa nanti.

*WASHINGTON *– “Kini sudah waktunya kita sekali lagi menempatkan sains
di puncak agenda dan karya kita, mendengar semua yang dikatakan ilmuwan
kita, meski itu tidak selalu enak didengarnya, terutama ketika itu
memang terdengar tidak enak di telinga kita.”

Kutipan dari ucapan Presiden Amerika Serikat Barack Obama tersebut
tampak tegas dengan huruf-hurufnya yang tercetak tebal dan ukurannya
yang lebih besar. Kutipan itu, bersama prinsip waspada yang diadopsi
Komisi Eropa, mengisi halaman awal sebuah laporan terbaru yang
mengingatkan kaitan antara telepon seluler dan tumor otak.

Perdebatan tentang bahaya penggunaan telepon seluler memang tidak pernah
berhenti sampai ada bukti yang benar-benar konklusif. Sejauh ini, dari
National Cancer Institute di Amerika Serikat sampai Badan Kesehatan
Dunia (WHO), memang menyatakan bahwa segala perangkat digital nirkabel
bukan ancaman bagi kesehatan publik.

Tapi, seperti yang kali ini disimpulkan lewat sebuah studi dari Swedia
dan telah dipublikasikan melalui /International Journal of Oncology/,
Mei lalu, ada kutukan dari telepon seluler terhadap penggunanya.
Profesor Lennart Hardell dan timnya menemukan bahwa mereka yang telah
menggunakan telepon seluler dan telepon digital nirkabel sejak remaja
akan memiliki peningkatan risiko tumor otak hingga 420 persen.

Berlandaskan terutama pada hasil studi terbaru itulah sekelompok
peneliti internasional yang menyebut dirinya International EMF
(Electromagnetic Field) Collaborative mengingatkan kembali akan bahaya
penggunaan telepon seluler. Dalam laporan setebal 44 halaman, mereka
mencoba merangkum bahaya penggunaan telepon seluler terutama oleh
anak-anak.

Telepon seluler dan telepon nirkabel disebutkan memiliki emisi radiasi
elektromagnetik yang cenderung menembus lebih mudah dan dalam pada otak
anak-anak ketimbang orang dewasa. Tak cuma bikin kuping panas,
membiarkan telepon-telepon genggam itu menempel terlalu lama di kepala
anak-anak dan para remaja dikhawatirkan juga memicu tsunami tumor otak
di masa depan.

“Berharap saja kami salah, karena ini juga masih terlalu awal untuk
melihatnya sekarang, karena tumor memang memiliki usia laten 30 tahun,”
kata L. Lloyd Morgan sambil menambahkan, “tapi tanggung sendiri
risikonya kalau ternyata benar.”

Pensiunan insinyur listrik dari Berkeley, California, yang juga anggota
Bioelectromagnetics Society, itu bersama 43 pakar dan ilmuwan lainnya
dari Australia, Brasil, Kanada, Finlandia. Prancis, Jerman, Yunani,
Irlandia, Rusia, Spanyol, Swedia, dan Inggris memberi judul laporannya
itu “Cellphones and Brain Tumors: 15 Reasons for Concern”.

Studi yang didukung EMR Policy Institute, Peoples Initiative Foundation,
ElectromagneticHealth.org, The Radiation Research Trust and Powerwatch
tersebut juga mengungkap upaya penyesatan informasi lewat riset industri
nirkabel di 13 negara, sebagian besar di Eropa Barat. Morgan dan
kawan-kawan membeberkan 11 cacat studi Interphone yang hasil-hasilnya
bakal dirilis sebelum akhir tahun ini di 13 negara, belum termasuk
Amerika Serikat.

Studi yang sebenarnya sudah rampung sejak 2004 namun ditunda-tunda terus
publikasinya itu dituding meremehkan risiko tumor otak dari penggunaan
telepon seluler. Studi tersebut juga mengabaikan subyek pengguna telepon
portable, padahal perangkat ini juga mengemisikan radiasi gelombang mikro.

Studi Interphone tidak mengkaji ragam jenis tumor otak selain glioma
(kanker dalam sel glial), neuroma akustik (tumor di saraf pendengaran
pada otak), dan meningioma (tumor pada jaringan yang menghubungkan otak
dengan sumsum tulang belakang). Studi senilai jutaan dolar Amerika ini
malah mengkaji jenis tumor lain, seperti yang mungkin tumbuh di kelenjar
ludah, walau hasilnya diungkap terpisah.

Subyek-subyek yang sudah meninggal atau terlalu sakit untuk diwawancarai
juga ditinggalkan. Begitu pula anak-anak dan remaja. “Padahal mereka
justru yang paling rawan terhadap dampak emisi gelombang elektromagnet
telepon seluler,” bunyi laporan tandingan tim ilmuwan.

Hasil gabungan dari 13 negara memang baru akan dirilis, namun selama
empat tahun ini sudah ada 14 hasil studi Interphone yang dipublikasikan
secara terpisah-pisah. Tiga di antaranya merupakan kombinasi dari studi
yang dilakukan di lima negara, yakni Swedia, Denmark, Inggris,
Finlandia, dan Norwegia. Sisanya adalah studi individual di Jepang,
Denmark, Prancis, Jerman, Swedia, Inggris, dan Norwegia.

Yang mengejutkan adalah rata-rata hasil studi tersebut menyatakan bahwa
telepon seluler melindungi penggunanya dari tumor otak. Sebuah
kesimpulan yang memicu Morgan cs menuding studi dilakukan dengan
telepon-telepon seluler khusus yang memang dilengkapi fitur yang
membuatnya aman. “Atau desain studi sejak awal sudah salah.”*WURAGIL |
PCWORLD | RADIATIONRESEARCH*

*Kembali ke Telepon Kabel *

Rasanya sulit sekali membayangkan hidup saat ini tanpa telepon seluler.
Ronald Herberman, pakar kanker di University of Pittsburgh Cancer
Institute, yang juga anggota tim International Electromagnetic Field
Collaborative, tahu benar soal ini.

Itu sebabnya Herberman mengatakan tim merekomendasikan sekadar
pembatasan penggunaan telepon seluler. Rekomendasi berlaku setidaknya
sampai data yang lebih konklusif terhimpun dua tahun lagi. Saat itu
Badan Kesehatan Dunia dan International Agency for Research on Cancer
sejatinya sudah akan memberi kesimpulan baik atau buruk telepon seluler
untuk kesehatan, terutama otak.

Sambil menunggu kesimpulan itu, Herberman menambahkan, akan jauh lebih
baik menganggapnya buruk. “Sejumlah studi memang tidak mengindikasikan
bahwa telepon seluler itu aman, tidak pula tegas menyebut mereka
berbahaya. Tapi bukti-bukti semakin kuat mengindikasikan bahwa kita
harus mengurangi paparannya,” katanya.

Dengan membatasi penggunaan telepon seluler, risiko terpapar medan
elektromagnetiknya juga akan semakin kecil. Herberman mengungkapkan,
negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Kanada sudah menyadari
pentingnya pembatasan tersebut dan memberlakukan rekomendasi pengurangan
paparan radiasi elektromagnetik dari perangkat digital seperti telepon
seluler.

Herberman menyarankan agar konsumen membeli telepon seluler dengan
spesifikasi radiasi yang rendah. Caranya, dengan mencari apa yang
disebut SAR atau /specific absorption rate/. Menurut Komisi Komunikasi
Federal Amerika Serikat, parameter SAR mengukur jumlah energi frekuensi
radio yang diserap tubuh ketika menggunakan sebuah telepon seluler.

Komisi itu telah menetapkan batas tertinggi SAR yang bisa diterima
sebesar 1,6. Berdasarkan kriteria ini, Motorola Razr V3x merupakan yang
paling ramah karena tingkat SAR-nya hanya 0,14. Tapi telepon seluler
Motorola pula yang menurut daftar SAR keluaran CNET memiliki SAR di
batasnya tertinggi, yakni V195.

Selain merujuk kepada kemampuan penetrasi gelombang tersebut ke dalam
tubuh, rekomendasi Herberman lainnya mungkin terdengar ekstrem. Tapi,
ya, kalau memikirkan dampaknya 30 tahun lagi, mungkin ada baiknya juga
disimak.

- Hanya membolehkan anak menggunakan telepon seluler dalam kasus-kasus
darurat. Mereka juga jangan sekali-sekali dibiarkan tidur dengan telepon
seluler disimpan di bawah bantal.
- Jauhkan telepon seluler dari tubuh, dari kantong sekalipun. /Headset/
tanpa kabel mungkin bisa jadi alternatif.
- Hindari menggunakan telepon dalam kendaraan bergerak karena cenderung
meningkatkan tenaga dan radiasi yang dibutuhkan perangkat yang bergerak
menjauh dari menara pemancarnya.
- Memprioritaskan pemakaian telepon seluler di luar rumah atau gedung
juga bisa mengurangi tenaga dan radiasi itu.
- Batasi penggunaan telepon seluler di bus, kereta, atau alat
transportasi umum lainnya untuk mencegah perangkat yang sedang Anda
gunakan menyebarkan radiasi kepada orang lain di sekitar.
- Gunakan telepon kabel kalau ingin berbicara lama, jangan telepon
seluler. Malah, kalau mungkin, gunakan selalu telepon kabel.
- Ganti-ganti telinga ketika berkomunikasi dengan telepon seluler untuk
membagi beban paparan radiasi antara satu sisi tubuh dan sisi yang lain
- Kembangkan kebiasaan berkirim pesan pendek (SMS).

*15 Alasan *

Peringatan tentang bahaya radiasi dari penggunaan telepon seluler
terhadap kesehatan sudah disuarakan selama bertahun-tahun. Begitu
sulitnya membuat percaya banyak orang, ahli bedah saraf dari Inggris,
Vini Khurana, sampai-sampai pernah menerjemahkan tingkat bahaya itu
lebih tinggi ketimbang asbes dan merokok.

Khurana mengaku tak berlebihan soal terjemahannya tersebut. Iia, yang
telah menulis lebih dari 30 makalah ilmiah dan mengulas lebih dari 100
studi tentang efek telepon seluler, mengatakan saat ini sudah tiga
miliar orang di dunia yang menggunakan telepon seluler.

Angka itu tiga kali lipat lebih banyak daripada jumlah orang yang
merokok di seluruh negara di dunia. Padahal, dengan angka itu saja, lima
juta perokok meninggal tiap tahun.

Sekarang, masalahnya, apakah telepon seluler seseram rokok. Khurana
senada dengan tim ilmuwan Collaborative dengan menyatakan bukti semakin
kuat dan signifikan yang mengaitkan penggunaan ponsel dengan tumor di
otak. “Risikonya akan semakin nyata pada tahun-tahun ke depan,” katanya.

Toh, masih sangat berat memisahkan orang-orang dari telepon seluler
mereka. Industri ponsel pun masih belum yakin akan bahaya-bahaya
tersebut dan cenderung menganggapnya sebagai suara-suara miring.
“Diskusi literatur ilmiah terbatas oleh individual,” begitu Asosiasi
Operator Seluler di Inggris pernah bilang.

Kelompok Industri itu bahkan siap menggebrak dengan riset tandingannya
yang digelar serentak di 13 negara. Efek hasil riset inilah yang coba
dilawan tim Collaborative dalam laporannya yang terbaru. Morgan,
Herberman, dan yang lainnya menilai ada 15 alasan yang mesti menjadi
pertimbangan setiap orang di dunia.

1. Riset mereka sendiri menunjukkan ponsel menyebabkan tumor otak.
2. Riset yang mereka danai juga menunjukkan penggunaan ponsel mengatrol
risiko tumor otak (2000-2002).
3. Studi Interphone secara konsisten menunjukkan penggunaan ponsel
kurang dari 10 tahun melindungi penggunanya dari tumor otak.
4. Riset independen menunjukkan ada risiko tumor otak dari penggunaan
ponsel.
5. Meski ada pemelintiran hasil yang sistemik di seluruh studi
Interphone, risiko tumor otak yang signifikan dari penggunaan ponsel
masih muncul.
6. Studi-studi kemandirian pendanaan industri menunjukkan apa yang bisa
diharapkan apabila telepon nirkabel menyebabkan tumor otak.
7. Tingkat bahaya tumor otak dari penggunaan ponsel tertinggi terjadi
pada anak-anak, dan semakin belia anak itu mulai mengenal telepon
seluler, semakin tinggi risikonya.
8. Sudah banyak pemerintah yang mengingatkan akan bahaya penggunaan
ponsel pada anak-anak.
9. Batas paparan ponsel hanya berdasarkan panas yang ditimbulkannya.
10. Perubahan dalam masalah kesehatan terkait dengan medan
elektromagnetik sudah disepakati dalam parlemen Eropa.
11. Radiasi ponsel merusak DNA, sebuah sebab kanker yang tak terbantahkan.
12. Radiasi ponsel dapat ditunjukkan membocorkan penghalang otak-darah.
13. Panduan manual ponsel mengingatkan kepada penggunanya untuk
menjauhkan ponselnya itu dari tubuh bahkan ketika ia tidak aktif sekalipun.
14. Komisi Komunikasi Federal di Amerika Serikat mengingatkan tentang
penggunaan telepon nirkabel.
15. Kesuburan pria bisa rusak akibat radiasi ponsel.

sumber :

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/09/02/Gaya_Hidup/krn.20090902.175553.id.html

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>